Wartanusa | Banda Aceh. 24 organisasi dan lembaga yang mengadvokasi isu perempuan melakukan workshop satu hari penuh di Politeknik Aceh dengan tema Keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan dan Pemenuhan hak-hak perempuan marjinal di Kota Banda Aceh (28/11/2018).
Ellena Yusti M.Si, Program Manager Woman, Peace and Security Lembaga Riset Natural Aceh menyebutkan bahwa lembaga riset Natural Aceh tergerak untuk mengkaji dan mengumpulkan data terkait peran perempuan marjinal dalam proses pengambilan keputusan yang mengarah pada keterlibatannya dalam menyusun perencanaan dan advokasi, serta mengkaji pemenuhan hak-hak perempuan marjinal.
Hal ini penting untuk dikaji dikarena pembangunan dan kualitas sumber daya manusia suatu wilayah akan merata jika tidak ada bias gender dan kepentingan yang mendasari hak yang seharusnya dipenuhi dengan tujuan membentuk kebijakan sehingga bisa dicapai kondisi sumber daya manusia yang layak dan lebih baik.
24 perwakilan organisasi dan puluhan pengamat yang berasal dari mahasiswa Politeknik Aceh, Unsyiah dan UIN tersebut membahas bagaimana strategi penguatan partisipasi perempuan marjinal (perempuan muda, perempuan disabilitas, perempuan korban konflik dan bencana alam, perempuan kepala keluarga dan perempuan pekerja) dalam pembangunan di Kota Banda Aceh.
Mahmuddari Humas Politeknik Aceh menyebutkan sebagai perguruan tinggi, Politeknik Aceh siap dan mendukung upaya-upaya rekan-rekan mitra dari LSM, NGO, CSO, DPO, dan WRO dalam pembangunan masyarakat.
Berbagai isu dan tantangan yang dihadapi perempuan marginal dibahas lintas organisasi untuk menghasilkan terobosan kebijakan dan program yang dibutuhkan.
Beberaparekomendasi dari workshop ini adalah:
- Sosialisasi UU No 4 tahun 2014 dan UU No 8 Th.2016 ke masyarakat
Penyusunan Reusam Gampong yang mendukung peningkatan partisipasi perempuan marjinal dalam pembangunan perdamaian Aceh
- Pelibatan perempuan marjinal dalam proses perencanaan pembangunan
Memperkuat jaringan dan kerjasama dengan media.
- Perkuat perempuan marjinal proaktif ikut dalam proses-proses perencanaan, pelaksanaa, dan monev program.
- Mendorong alokasi minimal 1 % dari dana desa untuk kelompok disabilitas dan perempuan marjinal.
Dr. Hasna dari Pusat Studi Wanita Universitas Syiah Kuala salah satu peserta workshop berharap penelitian-penelitian tentang Peran, kondisi, kiprah dan aktivitasnya lebih banyak dilakukan, dan proses pendidikan perempuan marginal bisa dimulai dari majelis taklim di masing-masing gampong.












