Wartanusa.id – Aceh Tamiang | Tim pengabdian kepada masyarakat (PKM) Universitas Samudra (Unsam) melatih teknologi bokhasi kepada kelompok petani Repelita di Desa Sukaramai Dua Kabupaten Aceh Tamiang.
Teknologi Bokhasi merupakan metode pembuatan pupuk kompos dari hasil fermentasi bahan organik seperti jerami, sampah organik dan pupuk kandang.
Ketua Tim PKM Unsam Ekariana S. Pandia S.Si., M.Pd. didampingi anggota drh.Teuku Hadi Wibowo Atmaja, M.Pd dan Safuridar, S.E.,M.Si kepada wartanusa.id Kamis, (18/08/2022) mengatakan kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu 10 Agustus bersumber dari dana hibah Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRPM) Unsam yang dibantu oleh mahasiswa.
Ekariana S. Pandia mengatakan bahwa limbah kotoran sapi merupakan masalah bagi masyarakat karena dapat mengganggu kesehatan lingkungan, ternak dan masyarakat.
“Upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak limbah yang dihasilkan adalah dengan memanfaatkan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik, namun masalah baru timbul diakibatkan proses yang lama yaitu membutuhkan selama dua bulan untuk menghasilkan pupuk yang layak digunakan.
Oleh karena itu tim PKM Unsam memberikan solusi kepada masyarakat dengan mengadakan kegiatan pelatihan yang diawali dengan melakukan sosialisasi pengelolaan limbah kotoran sapi dengan tepat untuk mengurangi pencemaran lingkungan juga memiliki manfaat yang besar bagi produksi hasil panen.
Kemudian melakukan pelatihan pengolahan limbah kotoran sapi dengan metode Bokashi dan pelatihan pengemasan serta pemasaran yang dapat meningkatkan ekonomi mitra.
Pelatihan ini dilaksanakan di salah satu lahan milik peserta yang diikuti oleh masyarakat di Desa Sukaramai Dua Kabupaten Aceh Tamiang yang tergabung dalam Kelompok Tani Repelita.
“Peserta pelatihan sangat antusias dan bersemangat dalam mengikuti kegiatan mulai dari tahap awal sosialisasi, proses pengolahan pupuk sampai pada dengan tahap pengemasan,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua kelompok tani Repelita, Irianto mengatakan bahwa ini adalah peluang untuk menambah pendapatan bagi kelompok tani, karena kegiatan ini sangat mudah dilakukan dengan bahan baku yang terus tersedia yang berasal dari peternak itu sendiri dan modal yang digunakan juga sangat terjangkau.
“Dengan adanya kegiatan ini diharapkan limbah kotoran sapi yang sudah diolah menjadi pupuk bokhasi dapat dipasarkan, sehingga memenuhi permintaan pasar terhadap kebutuhan pupuk organik, dan akan terciptanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta menambah pendapatan mitra PKM,” tutup Irianto.












