WARTANUSA.ID – Pemimpin tujuh negara besar dunia yang dikenal dengan G7 telah menemukan solusi dalam memerangi terorisme, namun gagal dalam menjembatani jurang diantara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin lainnya mengenai masalah trade dan perubahan iklim.
Pada hari pembukaan KTT yang dilaksanakan dua hari, pada hari Jumat para pemimpin tersebut menyetujui sebuah usulan yang dikeluarkan oleh Inggris yang meminta kerjasama dari penyedia layanan internet dan perusahaan media sosial untuk menindak tegas penyebaran konten yang mengilhami kekerasan atas nama agama.
Dalam sebuah pernyataan bersama mengenai terorisme, negara G7 juga bersumpah akan melakukan upaya kolektif untuk melacak dan mengadili pejuang asing yang menyebar dari Suriah dan zona konflik lainnya.
Namun, negara-negera peserta KTT mengalami kebuntuan dalam usaha mereka untuk meyakinkan Trump untuk mempertahankan skema negara ekonomi terbesar di dunia itu dalam kerangka Perjanjian Paris 2015 untuk membatasi emisi karbon guna mengurangi pemanasan global.
Perdagangan bebas juga ikut menjadi masalah. Para pemimpin negara-negara G7 bahkan tidak berusaha menyembunyikan perpecahan mereka di resor puncak bukit Sisilia di Taormina.
Pemilihan tempat yang menghadap ke Mediterania itu mencerminkan keinginan tuan rumah Italia agar pertemuan tersebut dapat menunjukkan kerjasama melawan arus migrasi ilegal yang mematikan dari Afrika yang berada di dekat negara tersebut.
Tapi diskusi mengenai masalah tersebut juga menemui jalan buntu karena perbedaan dengan Amerika Serikat mengenai beberapa isu yang oleh Presiden Uni Eropa Donald Tusk menyebut “KTT G7 yang paling menantang di tahun-tahun”.
‘Pandangan yang berkembang’
Perdana Menteri Italia Paolo Gentiloni mengakui bahwa tidak ada terobosan baru dalam isu masalah perubahan iklim, yang menggambarkan masa depan pakta Paris yang berstatus “masih tergantung”, karena Trump masih meninjau kembali argumen untuk kesepakatan tersbebut dan mencoba menghapus kesepakatan global tersebut.
Gary Cohn, penasihat ekonomi Trump, mengatakan bahwa pandangan presiden masih dalam tahap “berkembang”.
“Dia datang ke sini untuk belajar,” kata Cohn. “Dasar keputusannya pada akhirnya akan menjadi yang terbaik bagi Amerika Serikat.”
[RZ]













