
Salah seorang jamaah mencuri perhatian publik pada Jumat lalu (23/12) pada saat menghadiri acara yang digelar untuk memperingati haul ke-7 wafatnya presiden keempat Republik Indonesia dan guru bangsa, KH. Abdurrahman Wahid atau yang kerap disapa Gus Dur. Seorang jamaah tersebut menggunakan pakaian koko tetapi ada yang janggal di kepalanya. Bukannya peci, jamaah tersebut justru malah menggunakan topi santa.
Memakai aksesoris Natal seperti topi Santa tetapi juga mengenakan pakaian khas Muslim sangat aneh dan tidak umum dikalangan umat muslim, apalagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa baru-baru ini yang menyatakan bahwa umat Islam haram hukumnya mengenakan atribut Natal, seperti topi santa misalnya.
Halim, jamaah yang hadir pada haul Gus Dur mengenakan topi Santa. Menurutnya, hal tersebut mengingat umat Kristiani Indonesia akan merayakan hari Natal pada Minggu (25/12).
“Ini hanya sikap toleransi saja,” ujar Halim.
Halim yang datang bersama seorang temannya ini mengaku tak takut mengenakan topi Santa di antara ratusan jamaah itu.”Saya tidak takut (pakai topi natal). Saya beli topi ini tahun lalu di salah satu pusat perbelanjaan.”
Menurut Halim, ini adalah kali ke tiga ia datang dalam peringatan wafatnya mantan Presiden ke-4 RI tersebut. Dia pun memberikan kesan tentang almarhum Gus Dur. Menurutnya Gus Dur adalah bapak pluarlisme yang sangat menyayangi rakyatnya pada saat menjadi presiden.
Haul Gus Dur diperingati setiap tahunnya untuk menghormati warisan kearifannya dan menghidupkan kembali gagasannya terkait plularisme dan menghormati kelompok-kelompok minoritas.
Putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid, mengatakan visi serta ide-ide dari almarhum ayahnya hingga kini masih relevan, terutama di tengah meningkatnya sektarianisme.
“Menanggapi meningkatnya budaya kebencian di kalangan umat Islam dan penganut agama lain baru-baru ini, kita merasa pemikiran-pemikiran Gus Dur masih relevan hingga saat ini guna menyebarkan nilai-nilai Islam yang dilakukan oleh Gus Dur,” kata Alissa Wahid dalam sebuah pernyataan.
Setahun setelah menjabat, Gus Dur mengeluarkan peraturan yang secara resmi mengakui Konghucu, agama yang dianut oleh banyak orang Cina-Indonesia, dimana agam tersebut telah dilarang untuk menampilkan budaya mereka selama pemerintahan otoriter Presiden Soeharto.
(as)

















