Gubernur Kalsel H. Sahbirin Noor, S.Sos.,MH., Membuka Kongres Budaya Banjar (KBB) Ke V di Banjarmasin

Gubernur Kalsel H. Sahbirin Noor, S.Sos.,MH., Membuka Kongres Budaya Banjar (KBB) Ke V di Banjarmasin

Banjarmasin, Wartanusa.id – Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) kembali menggelar Kongres Budaya Banjar (KBB) 2019 yang kelima kalinya dengan mempromosikan budaya daerah sebagai objek wisata, kegiatan tersebut di buka Gubernur Kalsel H. Sahbirin Noor, S.Sos.,MH, Jumat (29/11/2019) di Banjarmasin.

Dr Taufik Arbain, Pengurus Kerukunan Bubuhan Banjar sekaligus Akademisi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin menyampaikan “Promosi budaya tersebut terutama melalui perwakilan keluarga ‘bubuhan’ Banjar di Asia Tenggara dan seluruh Indonesia yang hadir pada KBB V 2019,” ujarnya.

“Bubuhan” berasal dari kata bahasa daerah Banjar Kalsel yang arti berarti warga atau kelompok, tetapi bisa dalam pengertian sebuah komunitas.

Akademisi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin itu menerangkan, dalam kegiatan KBB yang bertemakan “Silaturahmi Dieratkan, Nilai Budaya Banjar Dilestarikan”.

Topik-topik yang menjadi pembicaraan dalam seminar tersebut antara lain

“Peran dan Orientasi Pemuda Banjar Era 4.0 dan 5.0 Dalam Penguatan Jati Diri dan Nilai Kebudayaan Banjar oleh Indrawansyah Syarkowi SE MSi dari Riau.

“Orientasi Kebudayaan Banjar Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan oleh Dr Humaidi Abdussami dari Kalsel,

“Pengembangan Kesenian Banjar Menjawab Tantangan Zaman” oleh Jamal T Suryanata dari Kalsel.

Kemudian topik “Peningkatan Apresiasi Seni dan Budaya Banjar Menjawab Tantangan Zaman” oleh Dr H Setia Budi PhD dari Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalsel.

Selain itu, dari Presiden Kerukunan Bubuhan Banjar H Rudy Ariffin/mantan Gubernur Kalsel dua periode dengan topik “Strategi Penguatan Peran dan Fungsi Kepemangkuan Kebudayaan Banjar : Refleksi Kepemangkuan Budaya dari Daerah Asal dan Perantauan”.

Pembicara dari negeri Jiran yang juga keturunan orang Banjar yaitu Dr Mohamed Salleh Lamry dari Malaysia dengan topik “Aktualisasi Ekonomi : Penselarasan Nilai Budaya”.

Selain itu, topik “Peran dan Orientasi Perempuan Banjar : Masa Lalu dan Kekinian Dalam Penguatan Jati Diri dan Nilai Kebudayaan Banjar” oleh Nola Fibriyani Bte Salman dari Singapura.

Sedangkan harapan dari kegiatan KBB dan seminar itu antara lain inventarisasi budaya (tangible dan intangible heritage) baik yang ada di Banua (daerah Kalsel) maupun tersebar di nusantara.

Hal tersebut sebagai warisan budaya (culture haritage) yang teridentifikasi dapat dilestarikan untuk menjadi objek wisata, menumbuhkan ekonomi kerakyatan, baik objek wisata ziarah maupun ekowisata lainnya.

Selain itu, inventarisasi potensi ekonomi, baik jenis usaha maupun pelaksananya yang dapat meningkatkan peluang kesempatan kerja dan mempercepat pembangunan perekonomian di semua sektor, dan kesejahteraan “kulaan” (keluarga Banjar) di Banua serta dimana pun berada, demikian Taufik Arbain.

Peserta KBB dan seminar tersebut selain dari Kalsel sendiri juga warga komunitas Banjar di perantauan seperti Sumatera, Jawa dan Sulawesi, serta negeri Jiran Malaysia dan Singapura, kegiatannya berlangsung di Hotel Aria Barito Banjarmasin selama empat hari.

Kontributor : F. Nasrullah

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0