
Wartanusa.id – Sandang, pangan, dan papan merupakan kebutuhan pokok manusia. Tanpa pakaian manusia dikatakan tak bermoral. Tanpa pangan manusia sulit mempertahankan kesehatan bahkan kehidupan. Begitupun dengan papan yang berarti rumah, setiap orang akan lebih terjamin hidupnya jika memiliki rumah untuk tinggal.
Rumah yang layak bahkan mewah menjadi idaman mayoritas orang. Meski sebenarnya kondisi rumah bergantung pada kemampuan ekonomi dan kreatifitas pemiliknya. Orang kaya cenderung memilih punya rumah mewah berfasilitas bagus dan lengkap. Sedangkan orang menengah ke bawah cenderung memilih rumah yang sederhana asal layak huni.
Begitupun dengan sebuah keluarga di Ponorogo ini, yang mana demi menjalani hidup mandiri mereka rela tinggal di bekas kandang sapi.
Terpaksa Tinggal di Kandang Sapi
Pasangan suami istri Ahmad Sutomo dan Dwi Ayu Suciati memutuskan untuk hidup mandiri setelah sang istri mengandung anak kedua. Awalnya mereka tinggal serumah dengan orangtua Sutomo di Ponorogo namun saat mengandung anak kedua istrinya pulang ke Pekalongan, Jawa Tengah. Istri ingin mereka bisa mandiri. Sehingga muncullah niat Sutomo untuk mengambil alih fungsi kandang sapi di belakang rumah orangtua menjadi rumah tinggalnya.
Tahun 2014 hingga 2015 Sutomo mulai tinggal sendiri di kandang bersama sapinya. Meski awalnya orangtua menawarkan ia tinggal di dapur tapi ia menolak dan gigih mencari penghasilan dari kerja serabutan. Berawal dengan modal uang yang sedikit ia bertahap memperbaiki rumahnya. Sedangkan kini sapi orangtua ia pindahkan ke tempat lain.
Konstruksi Rumah Sutomo

Sutomo menyatakan bahwa rumahnya yang beralamat di RT 01 RW 02 Dusun Krajan, Desa Sendang, Kecamatan Jambon tersebut merupakan bangunan asli kandang sapi. Hanya rangka atap yang ia ganti. Lantainya berupa tanah yang ketika hujan becek semua. Ia juga bercerita bahwa dulunya di lantai itu terdapat gundukan kotoran sapi yang harus sampai ia cangkul untuk dibersihkan. Dindingnya berupa anyaman bambu atau yang biasa disebut gedek oleh orang Jawa. Jadi saat hujan airnya masuk rumah dari celah-celah sedangkan saat siang terik dalam rumah Sutomo tampak sangat terang.
Selain itu rumah Sutomo hanya punya satu ruangan. Disekat dengan kain usang yang dimanfaatkan sebagai kamar tidur. Dalam kamar itu terdapat kasur tipis bekas pemberian orang untuk tidur istri dan dua anak. Sedangkan ia sendiri tidur di tumpukan papan kayu yang hanya dialasi kain. Pun tak tampak furnitur maupun barang-barang elektronik mahal.
Perjuangan Sutomo Menafkahi Anak dan Istri

Sutomo adalah buruh serabutan di ladang orang-orang sekitar. Pekerjaannya tak setiap hari ada. Hanya ketika musim tanam dan panen lah orang-orang memerlukan bantuan tenaganya. Sehingga penghasilannya pun tak seberapa. Selain itu ia turut membantu orangtua mengurus sapi dan dititipi kambing temannya untuk kemudian bagi hasil jika peranakannya laku dijual. Bahkan ia baru berani memboyong anak dan istri ke kandang sapinya setelah benar-benar selesai direnovasi dan layak huni.
Selain itu Sutomo mengajar ngaji di Pondok Pesantren Mambaul Huda. Gajinya pun tak pasti. Kadang mendapat uang kadang tidak sama sekali. Yang sering hanya bingkisan di saat Idul Fitri. Meski begitu ia bersyukur sang istri ikhlas menerima kehidupan sederhana mereka.
Tak sampai di situ, Sutomo memiliki tekad cita-cita menjadi perajin kolor reog. Dengan modal pinjaman, ia berharap usahanya berhasil sehingga bisa lebih memajukan perekonomian keluarga.
Sejatinya nasib manusia tidak akan Allah tanpa manusia tersebut berusaha merubahnya sendiri. Sutomo adalah satu dari sekian manusia yang rela bersusah payah dalam hidup demi terus menjaga kesejahteraan rumah tangga kecilnya. Begitupun kisah perjuangan Sutomo ini semoga menjadi motivasi bagi siapapun yang bisa memetik pelajaran berharganya.

















