Menu

Mode Gelap
Seorang Kakek di Langsa Lecehkan Sembilan Bocah Pekan Ini, Pagelaran Budaya Aceh Terpusat di Kota Langsa Proyek Jalan Alue Gadeng-Alue Punti di Kecamatan Birem Bayeun Mangkrak PPA Langsa Sosialisasi Penanganan KDRT Terdampar di Aceh, 230 Etnis Rohingya Butuh Tempat Penampungan

Aceh · 9 Des 2019 17:55 WIB ·

Memanas, Elemen Sipil Akan Laporkan Dugaan “Mark Up” Pengadaan Tanah di Gampong Kapa


 Memanas, Elemen Sipil Akan Laporkan Dugaan “Mark Up” Pengadaan Tanah di Gampong Kapa Perbesar

Langsa | Mulai memanas polemik pengadaan tanah di Gampong Kapa, Kec Langsa Timur Tahun 2013 lalu menimbulkan kejanggalan sehingga terindikasi adanya praktik Mark Up (penggelembungan) harga mengakibatkan sejumlah elemen sipil berhasrat melaporkannya ke Kejaksaan Agung RI di Jakarta.

Hal ini disampaikan Ketua Dewan Pengurus Daerah, Koalisi Bersama Rakyat Aceh (DPD-KIBAR) Aceh Muslem, SE atau kerab disapa Cut Lem, dia menilai adanya praktik korupsi yang terjadi dalam proses pengadaan tanah tersebut.

“Bagaimana rumusnya tanah seharga 400 juta di jual dengan harga 7,1 Miliar ke pemerintah, kenapa tidak ada indikasi korupsi,”

Disamping itu, Cut Lem juga menjelaskan padahal sampai dengan saat ini pasaran tanah disitu masih berkisar 40 juta per hektarnya.

Oleh karena itu dia menganggap kasus ini sengaja dihentikan atau dikeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) oleh Kejari Langsa saat itu dengan surat SP3 nomor : PRINT -1136/N.1.14/Fd.1/09/2018 yang ditandatangani oleh Kajari Langsa an. R. IKA HAIKAL, SH, MH.

Sehingga dia menilai kasus ini syarat dengan mark up yang melibatkan beberapa pemangku kepentingan.

Untuk itu, Cut Lem menegaskan, melalui Kibar Aceh dan lembaga lainnya secara resmi akan melaporkan kasus ini ke Kejaksaan Agung.

“Atas kejanggalan SP3 ini, Kibar dan lembaga lainnya akan surati Kejagung RI,” Tandas Cut Lem melalui telpon selularnya, Senin (09/11).

Sementara ditempat terpisah disebutkan Gechik Yahya, banyak dampak negatif yang ditimbulkan oleh pembebasan lahan ini, dimana terus terjadi konflik sosial masyarakat setempat tanpa ada solusi yang kongkrit oleh Pemko dan pelaksana.

Fakta ini dikuatkan dengan surat permohonan pembayaran ganti kerugian dalam bentuk kerugian yang disampaikan oleh Kanwil BPN Aceh kepada Gubernur Aceh dengan nomor 41/PPT – LGS.I/II.300/XII/2013 tanggal 10 Desember 2013 yang ditandatangani oleh saudara Mursil, SH senilai Rp. 7.050.094.000 miliar.

Yahya melanjutkan, awalnya tanah tersebut dibeli oleh Sofyanto saat itu sangat variatif antara 15 juta hingga 40 juta saja per hektar nya. “Hingga jika diakumulasikan secara keseluruhan tanah-tanah warga yang dibeli saat itu tidak lebih berkisar Rp. 500 juta saja,” ungkap Yahya, Gechik Gampong Sungai Lung (red- disebut di Gampong Kapa) periode 2010-2016.***

Artikel ini telah dibaca 89 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Wakil Wali Kota Langsa Lepas Keberangkatan Kontingen Pramuka Jambore Nasional

8 Agustus 2026 - 07:55 WIB

Empat Mahasiswa FUAD IAIN Langsa Magang Internasional

4 Agustus 2026 - 11:50 WIB

Lepas Sambut Geuchik, TM Yogi Prahananda: Pelayanan Optimal Menuju Seulalah Baru Juara

3 Agustus 2026 - 20:05 WIB

Sertijab Geuchik Karang Anyar Dihadiri Anggota DPRK Langsa dan Dua Camat

3 Agustus 2026 - 13:56 WIB

Sertijab Geuchik Gampong Karang Anyar Kecamatan Langsa Baro.

FUAD IAIN Langsa Sosialisasi Program RPL, Mudahkan ASN dan Praktisi Lanjut Kuliah

3 Agustus 2026 - 12:19 WIB

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Langsa Terima Penghargaan Penyelamatan Arsip Terbaik se Sumatera

3 Agustus 2026 - 10:28 WIB

Foto bersama Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Langsa, Meilisa Ramandha dengan tim penyelamatan arsip.
Trending di Aceh