
Wartanusa.id – Tidak hanya kepolisian di Indonesia saja yang direpotkan oleh teror bom natal pada akhir tahun ini, aparat keamanan di sejumlah negara di Asia Tenggara dan Australia juga mengalami hal yang serupa. Kepolisian Indonesia dan Australia mengatakan bahwa pihaknya telah berhasil menggagalkan rencana bom natal pada malam perayaan atau misa natal di gereja-gereja. Begitupun Polisi Diraja Malaysia juga berhasil menagkap tersangka teroris.
Enam belas orang terluka dalam sebuah ledakan granat di salah satu gereja Katolik selama malam misa Natal berlangsung di wilayah selatan Filipina, Mindanao yang memang masih bergolak sampai sekarang ini.
Belum ada kelompok yang mengaku dan bertanggung jawab atas serangan di Mindanao tersebut, namun gerilyawan dan ekstimis Islam yang dikenal aktif di Provinsi tersbeut dicurigai melakukan aksi keji itu.
Bernardo Tayong, Kepala Kepolisian Kota Midsayap mengatakan sebagian besar jemaat yang terluka adalah yang berada di luar gereka Santo Nino di kota Midsayap, Cotabato Utara.
Misdayap merupakan kota kecil berjarak 900 kilometer dari Manila. Kota itu berlokasi di Pulau Mindanao, dan dikenal sebagai kawasan konflik antara pemerintah dan gerilyawan Muslim.
Pendeta Jay Virador mengatakan ledakan tersebut mengakibatkan jemaat berhamburan menyelamatkan diri.
“Tidak ada doa penutup karena ada keributan,” ujar Virador. “Orang-orang sudah panik dan segera meninggalkan gereja.” tutupnya.
Seorang polisi terluka karena pada saat kejadian dirinya tengah berdiri di dekat mobil patroli dimana granat meledak, sekitar 30 meter dari pintu masuk gereja, kata Tayong.
Tayong mengatakan jika pembom masih di lokasi. Ada laporan bahwa granat lain atau bom rakitan juga tertinggal di TKP.
Kedubes AS di Manila memperingatkan warga AS agar tidak bepergian ke pulau-pulau selatan karena hal itu sangat beresiko mulai dari ancaman penculikan hingga teror bom.
Pada bulan September, 14 orang tewas dan 70 luka-luka ketika sebuah bom rakitan meledak di sebuah keramaian pasar di Davao City, kota kelahiran Presiden Rodrigo Duterte. Sembilan orang, yang terkait dengan kelompok militan yang berafiliasi dengan ISIS telah ditangkap atas serangan tersebut.
Pasukan pemerintah terus berupaya menekan kelompok bersenjata Muslim, beberapa di antaranya telah berjanji setia kepada pejuang Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Kelompok tersebut juga dituding bertanggung jawab atas beberapa serangan pada masyarakat sipil di masa lalu.
(as)












