athrowback wholesale jerseys 2017 cheap nfl football jerseys china wholesale 100% Guarantee

Lubang Buaya, Lokasi Wisata yang Bisa Bikin Jiwa Nasionalisme Makin Membara

Bangsa Indonesia wajib menghormati jasa para pahlawan yang dahulu berkorban demi mencapai dan mempertahankan kemerdekaan. Termasuk pada bulan kemerdekaan seperti saat ini, yang patut kita lakukan adalah mengisi dan memeriahkan dengan salah satu caranya yaitu mengenang para pahlawan. Mengenang pahlawan bangsa dapat dilakukan dengan banyak hal misalnya berziarah ke Taman Makam Pahlawan, datang ke museum-museum bersejarah, maupun ke lokasi-lokasi tragedi yang bisa membuat kita sangat ingat tentang mereka.

Sebut saja Lubang Buaya. Lokasi bersejarah yang menjadi saksi sekaligus bukti kekejaman pengkhianat tanah air. Melalui peristiwa G30SPKI atau Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia, Lubang Buaya menjadi salah satu tempat yang dihormati dan selalu dikenang hingga kini.

Lubang Buaya

Merujuk pada sebuah sumur yang terletak di Jl. Raya Pondok Gede, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Nama Lubang Buaya berasal dari legenda buaya-buaya yang hidup di sungai dekat kawasan tersebut. Dahulu Lubang Buaya merupakan pusat pelatihan Partai Komunis Indonesia atau PKI yang kemudian menjadi tempat pembuangan korban-korban G30S pada 30 September 1965.

Baca Juga  Pentingnya Peran Orang Tua Mencegah Kriminal Anak

Kini di lokasi tersebut terdapat Lapangan Peringatan Lubang Buaya yang berisi Monumen Pancasila, sumur berdiameter 75 centimeter sedalam 12 meter tempat pembuangan korban, museum diorama, dan sebuah ruangan berisi relik. Ada pula rumah yang dulu dijadikan untuk menyiksa bahkan membunuh tujuh pahlawan revolusi. Sedangkan pengelolanya kini adalah Pusat Sejarah TNI dan instansi terkait.

Sejarah Tragis Lubang Buaya

Ada total tujuh orang yang menjadi korban pembuangan di Lubang Buaya. Yang telah tewas maupun masih hidup dibawa ke lokasi itu untuk disiksa hingga tiada. Yakni tiga petinggi TNI AD yang dibunuh di kediaman, ialah Letjen Ahmad Yani, Mayjen MT Haryono, dan Brigjen DI Panjaitan. Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal Abdul Harris Nasution yang awalnya berhasil lolos beserta ajudannya bernama Andreas Tandean. Sedangkan yang masih hidup lain yaitu Mayjen S. Parman, Mayjen R. Suprapto, dan Brigjen Sutoyo.

Penyiksaan terhadap kelima orang yang masih hidup diawali karena keteguhan S. Parman yang tidak bersedia menandatangani Dewan Jenderal. Dewan Jenderal adalah sebutan untuk kelompok jenderal yang diisukan hendak berkhianat pada Presiden Soekarno dan pemerintah Republik Indonesia. Setelah disiksa, antara hidup dan mati, para korban diseret dan dimasukkan ke sumur Lubang Buaya. Tak sampai di situ, anggota PKI menembaki korban untuk memastikan mereka telah meninggal. Kemudian jasad mereka ditutup dengan sampah pohon karet dan sebatang utuh pohon pisang.

Baca Juga  Nikmati Suasana Modern Di Warkop Ambhank

Kini Menjadi Tempat Wisata Bersejarah

Meski simpang siur menyatakan bahwa lokasi Lubang Buaya adalah tempat yang angker dan keramat namun kini bisa dikunjungi khalayak ramai. Harga karcis untuk dewasa maupun anak-anak sebesar Rp 4.000 per orang, karcis parkir bus seharga Rp 25.000, mobil sedan Rp 15.000, dan sepeda motor Rp 2.000. Terdapat halaman luas dan gedung museum di sebelah kanannya yang berisi diorama rangkaian peristiwa terkait PKI. Ada pula Monumen Pancasila Sakti yang diresmikan pada 1 Oktober 1981 berupa monumen dengan tujuh patung perunggu para perwira yang tewas serta patung garuda raksasa dengan sayap mengembang di belakang patung perwira.

Monumen Lubang Buaya Cemetuk Banyuwangi

Tidak hanya ada di Jakarta, monumen peringatan G30S juga berdiri di Desa Cemetuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Dinamai Monumen Pancasila Jaya, terdapat patung garuda raksasa yang mengembangkan sayap seperti di Jakarta, lengkap dengan relief peristiwa G30S di bawah kakinya. Terdapat tiga lubang persegi di belakang patung garuda. Penjaga monumen menjelaskan bahwa lubang yang besar dulu menjadi tempat pembuangan 42 orang sedangkan dua lubang kecil masing-masing untuk 10 orang yang mana kesemuanya dikenal dengan sebutan Pemuda Pancasila.

Baca Juga  Polisi Grebek Pabrik Roti Penimbung Tabung Gas 3 Kg

Suasana tegang dari peristiwa tragis oleh komunis di masa lalu menyisakan duka dan pencarian kebenaran hingga kini. Selayaknya bagi penerus bangsa untuk mengenang, merenung, dan mendoakan para pahlawan kemerdekaan. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Isi kemerdekaan dengan mempererat persatuan dan kesatuan.

Facebook Comments

more recommended stories

Share This