Wartanusa.id – Aceh | Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Institut Pertanian Bogor (IPB) sosialisasikan pemanfaatan bakteri Pemacu Pertumbuhan Tanaman/Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) untuk meningkatkan hasil tani kepada Petani di Gampong Kayee Adang, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar.
Ketua Tim KKN-T IPB wilayah Aceh Besar, M. Rizal Ayuby melalui pers rilisnya kepada wartanusa.id. Sabtu (15/08/2020) mengatakan pelaksanaan KKN-T IPB tahun 2020 dilaksanakan selama sebulan dan merupakan tahun perdana mahasiswa IPB melaksanakan KKN di wilayah domisili.
Diterangkan Rizal, pada implementasinya, dirinya bersama kelompok memperkenalkan bahwa penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang berlebihan memiliki dampak buruk terhadap perubahan lingkungan maupun ekosistem.
Hal ini yang mendorongnya untuk menerapkan pengetahuan yang telah didapatkan mengenai pertanian terhadap petani-petani di daerah.
Salah satunya dengan mensosialisasikan pengurangan pemakaian pupuk kimia dan pestisida secara perlahan melalui pembuatan PGPR (Plant Growth-Promoting Rhizobacteria) dengan memanfaatkan bakteri pada akar.
Program ini merupakan salah satu wujud kepedulian mahasiswa KKN-T IPB University terhadap para petani lokal di Gampong Kayee Adang.
Pelaksaan program ini mendapatkan antusiasme warga sekitar karena relatif baru dan jarang ditemui di Aceh. Ada kurang lebih 32 warga Gampong Kayee Adang yang mengikuti kegiatan ini terdiri dari Ibu-ibu, Bapak-bapak dan pemuda yang memiliki lahan pertanian.
Program ini bertujuan memberikan wawasan kepada petani mengenai cara pembuatan dan pengaplikasian, dikarenakan pengetahuan masyarakat Gampong Kayee Adang masih dikatakan minim tentang PGPR, produknya juga susah didapatkan di Aceh dan menjadi proses alternatif dalam pengembangan komoditi padi dan jagung sebagai potensi Gampong Kayee Adang.
PGPR bermanfaat untuk memicu pertumbuhan tanaman yang dibantu oleh bakteri serta memberikan kerentanan tanaman terhadap hama dan penyakit.
Kemudiam, PGPR juga dapat menjadi teknologi alternatif lain dari penggunaan pestisida sehingga aman digunakan pada tanaman hortikultura, tanaman hias, dan berbagai tanaman lainnya karena terbuat dari bahan alami ramah lingkungan seperti akar bambu, terasi, dedak, kapur sirih, dan gula.
Proses pembuatan PGPR tergolong sederhana tanpa memerlukan peralatan khusus sehingga mudah dilakukan secara berkelanjutan oleh petani dengan harga terjangkau dan mudah didapat.
“Kami berharap semoga Program PGPR dapat menjadi wawasan baru yang bermanfaat bagi masyarakat Gampong Kayee Adang khususnya petani dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang ada serta memahami cara mengimplementasikan pembuatan PGPR secara mandiri,” ungkap M Rizal.
Selain itu, tim KKN-T Aceh Besar juga membagikan benih dan bibit Seroja IPB (Cabai Pelangi) untuk memperkenalkan inovasi IPB di bidang pertanian dan sebagai wadah pengaplikasian program PGPR pada tanaman cabai yang dibagikan tersebut.
“Ini merupakan pengalaman paling berkesan bagi 7 mahasiswa IPB University asal Aceh dari kelompok acehbesar01 karena dapat melaksanakan KKN-T di Gampong Kayee Adang, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar,” imbuh Rizal.
Sementara, Ketua Gapoktan setempat, Tgk Marwan mengapresiasi apa yang diperkenalkan dan telah disosialisasikan mahasiswa IPB kepada masyarakat.
“Biasanya masyarakat sering pakek pupuk NPK, KCL dan urea. Kalau PGPR kami di sini gak pernah pakai, bahkan di sini petani juga gak tau itu PGPR, ya semoga dengan adanya program PGPR dari adek-adek mahasiswa menjadi ilmu baru lagi buat petani Gampong Kayee Adang untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada,” pungkasnya.











