Menu

Mode Gelap
PWI Aceh Serahkan Bantuan Kepada Wartawan Korban Banjir Pekan Ini, Pagelaran Budaya Aceh Terpusat di Kota Langsa Proyek Jalan Alue Gadeng-Alue Punti di Kecamatan Birem Bayeun Mangkrak PPA Langsa Sosialisasi Penanganan KDRT Terdampar di Aceh, 230 Etnis Rohingya Butuh Tempat Penampungan

Opini · 27 Mar 2021 20:44 WIB ·

Peristiwa dan Amalan di Bulan Sya’ban


 Foto : Ilustrasi Perbesar

Foto : Ilustrasi

Wartanusa.id | Sya’ban secara bahasa berasal dari dua kata, yaitu dari kata: Sya’bun – Sya’ban – artinya (menurut para ulama), orang-orang Arab zaman Jahiliyah dahulu pada bulan-bulan tersebut mereka mencari tempat-tempat dimana terdapat mata air karena negara Arab kala itu tanahnya kering, tandus, tidak sembarang tempat ada air.

Makna kata Sya’ban lainnya adalah sebuah bulan antara bulan Rajab dengan Bulan Ramadhan. Menurut Imam Ibnu Mandzur dalam kitabnya Lisanul ‘Arab, makna kata Sya’ban adalah bentuk dari lafadz Sya’aba atau berarti dhahara (tampak jelas/nyata) diantara dua bulan yang mulia, yaitu bulan Rajab dan bulan Ramadhan.

Dalam kitabnya Ma dza Fi Sya’ban, karangan Syech Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki menjelaskan, bahwa banyak riwayat yang menjelaskan tentang keagungan dan keutamaan bulan Sya’ban ini, termasuk di antaranya mengapa bulan ini dinamakan bulan Sya’ban.

Beliau mengutarakan beberapa pandangan ulama’ mengenai asal usul kata “Sya’ban” sekaligus makna yang terkandung di dalamnya sebagaimana kami kutip di bawah ini.

وسمي شعبان لأنه يتشعب منه خير كثير، وقيل معناه شاع بان، وقيل مشتق من الشِعب (بكسر الشين) وهو طريق في الجبل فهو طريق الخير، وقيل من الشَعب (بفتحها) وهو الجبر فيجبر الله فيه كسر القلوب، وقيل غير ذلك.

Artinya : “Bulan ini dinamai dengan sebutan Sya‘ban karena banyak cabang-cabang kebaikan yang terjadi pada bulan mulai ini. Sebagian ulama mengatakan, Sya‘ban  berasal dari kata Syâ‘a bân yang bermakna terpancarnya keutamaan.

Namun ada juga ulama yang menafsirkan bahwa Bulan Sya’ban adalah bulan yang diistimewakan dan diangungkan oleh Nabi Muhammad SAW, sehingga selayaknya bagi seluruh kaum muslim untuk turut pula mengagungkan bulan ini.

Dalam sebuah hadis, Nabi Saw bersabda; Sya’ban adalah bulan dimana amal seseorang dilaporkan kepada Allah SWT dan saya senang bila amalku dilaporkan dalam keadaan saya sedang berpuasa.” Sebagaimana hadits Nabi :

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya : “Bulan Sya’ban –bulan antara Rajab dan Ramadhan- adalah bulan di saat manusia lalai. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An-Nasa’i no. 2359. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Kemudian bahwa pada setiap pekannya, amalan seseorang hamba juga diangkat yaitu pada hari Senin dan Kamis. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ اتْرُكُوا – أَوِ ارْكُوا – هَذَيْنِ حَتَّى يَفِيئَا

Artinya : “Amalan manusia dihadapkan pada setiap pekannya dua kali yaitu pada hari Senin dan hari Kamis. Setiap hamba yang beriman akan diampuni kecuali hamba yang punya permusuhan dengan sesama. Lalu dikatakan, ‘Tinggalkan mereka sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim no. 2565)

Sedangkan Menurut ulama lainnya, Sya‘ban berasal dari kata As-syi‘bu (dengan dibaca harkat kasrah pada huruf syinnya), sebuah jalan di gunung, yang tidak lain artinya adalah jalan kebaikan.

Sementara sebagian ulama lagi mengatakan, Sya‘ban berasal dari kata As-sya‘bu (dengan fathah pada huruf syinnya), secara harfiah bermakna ‘menambal’ di mana Allah menambal  dan menutupi kegundahan hati (hamba-Nya) di bulan Sya’ban.

Ada pula ulama yang memahami bulan ini dengan makna selain yang disebutkan sebelumnya.

Melalui penjelasan di atas, tampak sangat jelas kandungan keistimewaan dan keutamaan bulan Sya’ban ini. Sehingga tidak heran ketika memasuki bulan ini, kaum muslim menyambutnya dengan penuh antusias dan kegembiraan.

Berbagai aneka ragam ibadahpun dilakukan dengan penuh semarak, mulai dari puasa, meramaikan masjid dengan shalat wajib lima waktu dan shalat-shalat sunnah secara berjamaah, semisal shalat tasybih dan lainnya pada nisfu sya’ban, ada juga yang berangkat umrah serta ziarah ke makam baginda Nabi Muhammad SAW.

Hal ini terdapat qaidah umum yang sudah pastinya sangat populer di kalangan para ulama’ bahwa nilai dasar keistimewaan suatu zaman (bulan) ditentukan oleh tingkat keistimewaan peristiwa yang terjadi pada zaman tersebut.

Maksudnya yaitu semakin tinggi nilai keistimewaan peristiwa yang terjadi, maka semakin tinggi pula keistimewaan zaman yang melingkupinya.

Begitu pula pada bulan Sya’ban, dikarenakan banyak amalan kebaikan dan keistimewaan yang diberikan Allah SWT di dalamnya, mulai dilaporkannya amalan seseorang ke hadirat Allah SWT, maka dianjurkannya memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dan sebagainya, sehingga menentukan tingkat keistimewaan pada bulan ini.

Dalam hal ini ada pernyataan sangat baik sekali yang dikatakan Sayyid Muhammad bin Abbas al-Maliki dalam kitabnya Ma Dza Fi Sya’ban berkaitan dengan mengagungkan bulan Sya’ban ini, juga bulan-bulan lainnya.

اننا لا نعظم الزمان لأنه زمان ولا المكان لأنه مكان لأن هذا عندنا من الشرك. ولكن ننطر لما هو أعلى من ذلك وأعظم… وانما ننظر اليها من حيث مقامها ووجاهتها وجاهها ورتبتها وشرفها…

Artinya : Kami tidak mengagungkan zaman (bulan) karena semata-mata zaman tersebut, dan tidak pula mengagungkan tempat karena hanya semata-mata tempat itu pula. Bagi kami hal itu bagian dari perbuatan syirik.

Tetapi kami melihat ada hal yang lebih besar dan agung dari itu semua, kami melihat (mengagungkan) dari sisi kedudukan, dan kemulian zaman (bulan) dan tempat tersebut”.

Karenanya ketika kaum muslim mengagungkan bulan Sya’ban bukan berarti karena bulan Sya’bannya tetapi karena peristiwa agung yang terjadi di dalamnya. Di antaranya ialah :

PERPINDAHAN QIBLAT DARI BAITUL MUQADDAS (MASJIDIL AQSHA) MENJADI KA’BAH DI MASJIDIL HARAM.

Imam Ath-Thabari didalam tafsirnya At-Thabary dijelaskan bahwa ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, sementara kebanyakan penduduknya adalah Yahudi. Maka Allah memerintah menghadap Baitul Muqaddas (sebagai kiblat). Orang Yahudi gembira karena Baitul Muqaddas merupakan kiblat mereka. Selama berkiblat ke Baitul Muqaddas orang-orang Yahudi selalu mencaci maki Rasulullah SAW.

Mereka berkata : “Muhammad menyelisihi agama kita tetapi berkiblat kepada kiblat kita jua” dan masih banyak celotehan mereka. Sikap orang-orang Yahudi tersebut membuat Nabi Muhammad SAW tidak senang dan setiap hari beliau berdo’a menengadahkan muka ke atas langit dalam keadaan rindu agar Allah menurunkan wahyu, bahwa kiblat dipindahkan dari Baitul Maqdis ke Ka’bah Baitullah yang mulia.

Hingga akhirnya Allahpun mengabulkan do’a Rasulullah dengan turunnya surat al-Baqarah ayat 144 yang berisi perintah untuk pindah dari awalnya berkiblat kepada Baitul Muqaddas menjadi Ka’bah.

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Artinya : “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”  (QS. Al-Baqarah : 144)

Selama umat Islam shalat menghadap baitul Muqaddas selama 17 bulan lebih 3 hari. Yakni sejak hari Senin, 12 Rabi’ul Awal tahun pertama Hijrrah sampai dengan Selasa 15 Sya’ban tahun kedua Hijrah. Shalat yang pertama kali dilakukan pasca perpindahan qiblat tersebut adalah shalat Asar.

MALAM PELAPORAN AMAL PERBUATAN

Pada malam nisfu Sya’ban semua amal manusia dilaporkan kepada Allah. Alangkah baiknya jika catatan amal perbuatan kita berupa ibadah. Dalam hadits dijelaskan:

عن أسامة بن زيد رضي الله عنهما قال : قلت : يا رسول الله لم أرك تصوم من شهر من الشهور ما تصوم من شعبان ؟ قال : ” ذاك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان ، وهو شـهر تُرفع فيه الأعمال إلى رب العالمين ، وأحب أن يُرفع عملي وأنا صائم ” قال المنذري: رواه النسائي ( 1) الترغيب والترهيب للمنذري 2/ 48 .

Artinya : Dalam hadits riwayat Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasul aku tidak melihatmu puasa pada bulan-bulan lain seperti pada Bulan Sya’ban? Rasul menjawab, “Bulan ini adalah bulan yang dilupakan manusia, antara bulan Rajab dan Ramadhan. Dan bulan ini saat dilaporkannya amal perbuatan (manusia) kepada Tuhan semesta alam. Dan aku senang jika amalku dilaporkan sedangkan aku dalam keadaan puasa”

Saya mengartikan lafadz “turfa’u” dengan kalimat “tu’radhu” atau bermakna ditampakkan atau ditunjukkan (kepada Allah) saya tidak memaknainya dengan diangkat.

Sebenarnya pelaporan Amal kita ini ada yang harian ada yang mingguan, ada pula yang tahunan. Laporan harian dilakukan Malaikat pada siang hari dam malam hari. Yang migguan dilakukan Malaikat setiap Senin dan Kamis. Adapun yang tahunan dilakukan pada setiap Lailatul Qadar dan Malam Nisfu Sya’ban (lihat kitab Hasyiyatul Jamal bab Puasa Tathawwu’).

AMPUNAN DOSA.

Ada hadits yang menyatakan keutamaan malam nisfu Sya’ban bahwa di malam tersebut akan ada banyak pengampunan terhadap dosa. Di antaranya hadits dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi saw beliau bersabda.

يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

Artinya : “Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”

Syech Al-Mundziri dalam kitab At-Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, hadits ini “Dikeluarkan oleh At-Thabrani dalam Al-Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al-Baihaqi.

Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits ini dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Al-Bazzar dan Al-Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.”

Demikian perkataan Al-Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi, lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al-Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi’ah dan ia adalah perawi yang dinilai atau dianggap dha’if.”

Walau demikian penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits tersebut dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah untuk memperkuat dan perbnayak amalan bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan malam nisfu Sya’ban.

Intinya, penilaian kebanyakan ulama, bahwa keutamaan malam nisfu Sya’ban yang dinilai dha’if. Keduduakan haditsnya, Namun sebagian ulama mensahihkannya, artinya boleh di’amalkan sebagai Fadhilah amal, juga tidak menganggapya kewajiban ataupun sunnah muthlaq, dan banyak lagi kelebihan dan fadhilah dari pada bulan Sya’ban ini.

Maka dari itu Abu Bakar Al-Balkhi berkata: Bulan Rajab itu bagaikan angin. Bulan Sya’ban itu bagaikan awan. Dan bulan Ramadan itu bagaikan hujan.”

Barangsiapa tidak menanam benih amal shalih di bulan Rajab dan tidak menyirami tanaman tersebut di bulan Sya’ban, bagaimana mungkin ia akan memanen buah takwa di bulan Ramadan? Di bulan yang kebanyakan manusia lalai dari melakukan amal-amal kebajikan ini, sudah selayaknya bila kita tidak ikut-ikutan lalai.

Maka bersegera menuju ampunan Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya adalah hal yang harus segera kita lakukan sebelum bulan suci. Bulan persiapan menyambut bulan Ramadan.

Bulan Sya’ban adalah bulan latihan, pembinaan dan persiapan diri agar menjadi orang yang sukses beramal shalih di bulan Ramadan.

Untuk mengisi bulan Sya’ban dan sekaligus sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadan, ada beberapa hal yang selayaknya dikerjakan oleh setiap muslim.

Persiapan iman, yang meliputi :
Segera bertaubat dari semua dosa dengan menyesali dosa-dosa yang telah lalu. Memperbanyak doa agar diberi segala kebaikan dan kemudahan.

Memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban agar terbiasa secara jasmani dan rohani. Ada beberapa cara puasa sunah yang dianjurkan di bulan Sya’ban, yaitu : Puasa Senin-Kamis setiap pekan ditambah puasa ayyamul bidh (tanggal 13,14 dan 15 Sya’ban), atau puasa Daud, atau puasa lebih banyak dari itu dari tanggal 1-28 Sya’ban.

Mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an dengan cara mentargetkan bacaan lebih dari satu juz per hari, ditambah membaca buku-buku tafsir dan lainnya.

Meresapi kelezatan shalat malam dengan melakukan minimal dua rakaat tahajud dan satu rakaat witir di akhir malam. Meresapi kelezatan zikir dengan menjaga zikir setelah salat, zikir pagi dan petang, dan zikir-zikir/Amalan rutin lainnya.

Persiapan Jihad melawan hawa nafsu Meliputi :

Mengekang hawa nafsu dari kebiasaan-kebiasaan buruk dan keinginan hidup mewah, boros, kikir, dan menikmati makanan-minuman yang lezat atau pakaian yang baru di bulan Ramadan
Membiasakan lisan untuk mengatakan perkataan-perkataan yang baik dan bermanfaat.

Mencegah hawa nafsu dari keinginan untuk melampiaskan kemarahan, kesombongan, penyimpangan, kemaksiatan dan kezaliman
Membiasakan diri untuk hidup sederhana, ulet, sabar, dan sanggup memikul beban-beban dakwah dan jihad di jalan Allah.

Melakukan muhasabah (introspeksi) harian dengan membandingkan antara program-program persiapan diatas dan tingkat keberhasilan pelaksanaannya.

AMALAN PADA MALAM NISFU SYA’BAN
Adapun Amalannya :

1. Shalat

Baik Melaksanakan Shalat Tasbih empat rakat atau Shalat Raghaib sebagaimana ungkapan alghazali, walau pelaksanaan ada ulama yang menggapnya ibadah yang tmungkar Artinya tak berlandaskan dalil muthlaq namun sebahagian ulama lain mengatakan boleh diamalkan dan dikerjakan hanya sebatas fadhilah amal saja.

)مسألة): صلاة الرغائب من البدع المنكرة كما ذكره ابن عبد السلام وتبعه النووي في إنكارها، وهي جائزة بمعنى لا إثم على فاعلها، والجماعة فيها جائزة أيضاً، نعم لو صلاها معتقداً صحة أحاديثها الموضوعة أثم.

Artinya : shalat raghaib ini dalah ibadah yang bid’ah mungkarah, sebagaimana disebutkan oleh ibnu abdissalam, dan imam nawawi, walau demikian boleh dikerjakan sendiri dan juga berjama’ah,namun hal ini bukan sebuah ketentuan perkara sunnah muthlaq.

2. Berdoa kepada Allah SWT

Nabi Muhammad saw pada malam Nisfu Sya’ban berdoa untuk para umatnya, baik yang masih hidup maupun mati. Dalam hal ini Sayidah Aisyah RA meriwayatkan hadits:

نَّهُ خَرَجَ فِى هَذِهِ اللَّيْلَةِ إلَى الْبَقِيعِ فَوَجَدْتُهُ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالشُّهَدَاءِ.

Artinya : “Sesungguhnya Nabi Muhammad saw telah keluar pada malam ini (malam Nisfu Sya’ban) ke pekuburan Baqi’ (di kota Madinah) kemudian aku mendapati beliau (di pekuburan tersebut) sedang memintakan ampun bagi orang-orang mukminin dan mukminat dan para syuhada.”

Dan banyak lagi hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal, at-Tirmidzi, at-Tabrani, Ibn Hibban, Ibn Majah, Baihaqi, dan an-Nasa’i bahwa Rasulullah saw menghormati malam Nisfu Sya’ban dan memuliakannya dengan memperbanyak salat, doa, dan istighfar.

3. Membaca Surat Yasin

Adapun do’a yang dibaca setiap usai shalat setelah membaca surat yasin ialah :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وصَلَّى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصـحبه وسـلَّـم اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلاَ يُمَنُّ عَلَيْك يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَاْلاِنْعَامِ، لا إلهَ الاَّ اَنْتَ ظَهَرَ اْللاَّجِئِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِريْنَ وَمَأمَنَ الْخَائِفِيْنَ. اَللَّهُمَّ اِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُوْمَا أَوْ مَطْرُوْدًا أَوْ مُقْتَرًا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ فَامْحُ الَّلهُمَّ بِفَضْلِكَ شَقَاوَتِيْ وَحِرْمَانِي وَطَرْدِيْ وَاِقْتَارَ رِزْقِيْ وَاثْبُتْنِيْ عِنْدَكَ في أم الكتاب سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا موفقا لِلْخَيْرَاتِ، فَانَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ اْلـمُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ اْلـمُرْسَلُ: (يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ) اِلَهِي بِالتَّجَلِّى اْلاَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْباَنِ اْلـمُكَرَّمِ الَّتِى يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَيُبْرَمُ، أَسْأَلُكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ أسألك أَنْ تَكْشِفَ عَنَّا مِنَ الْبَلاَءِ مَا نَعْلَمُ وَمَا لاَ نَعْلَمُ وَمَا اَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ، اِنَّكَ أَنْتَ اْلأَعَزُّ اْلاَكْرَمُ وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Artinya : Ya Allah Yang Maha Pemurah, semoga Allah senantiasa memberi rahmat dan keselamatan kepada gusti kita Muhammad dan keluarganya dan sahabatnya. Duhai dzat yang meiliki anugerah dan tidak diberi anugerah kepadamu. Ya Allah yang maha Agung lagi maha Mulia. Duhai dzat yang memberi anugerah dan kenikmatan. Tiada Tuhan selain Engkau. Engkau yang membantu para pengungsi dan yang minta pertolongan serta tempat aman bagi orang yang ketakutan.

Duhai Tuhan-ku, jika telah termaktub bahwa aku bagian orang yang celaka, terhalang atau tertolak dari rahmat-Mu atau sempit dalam rizkiku, maka hapuskanlah dengan fadholmu, nasib burukku, terhalangku (dari rahmatmu) dan kekurangan rizkiku.

Ya Allah, mohon aku dicantumkan dalam kitab-Mu sebagai orang yang berbahagia yang diberikan rizki dan diberi pertolongan dalam kebaikan.

Sesungguhnya Engkau berfirman dan firmanmu selalu benar, dalam kitabmu yang diturunkan atas lisan Nabimu yang terutus : yang artinya Allah dapat menghapus yang dikehendaki dan menetapkan yang dikehendaki, dan Allah memiliki ummul kitab.

Ya tuhanku, dengan tampaknya keagungan pada malam nisfu Sya’ban yang mulia ini, di mana Engkau memutuskan dan menetapkan nasib. Kami memohon kepadaMu duhai dzat yang maha Pengasih dari yang pengasih.

Kami memohon kepadamu agar menjauhkan dari kami dari segala bencana yang kami ketahui dan yang tidak kami ketahui dan Engkau yang mengetahui segalanya.

Ya Allah sesungguhnya Engkau yang maha mulia, Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad dan keluarganya. Amin!

 

4. DOA NISFU SYA’BAN

اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَ لا يَمُنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَ اْلاِكْرَامِ ياَ ذَا الطَّوْلِ وَ اْلاِنْعَامِ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ ظَهْرَ اللاَّجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ وَ اَمَانَ اْلخَائِفِيْنَ . اَللَّهُمَّ اِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِى عِنْدَكَ فِيْ اُمِّ اْلكِتَابِ شَقِيًّا اَوْ مَحْرُوْمًا اَوْ مَطْرُوْدًا اَوْ مُقْتَرًّا عَلَىَّ فِى الرِّزْقِ فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ فِيْ اُمِّ اْلكِتَابِ شَقَاوَتِي وَ حِرْمَانِي وَ طَرْدِي وَ اِقْتَارَ رِزْقِي وَ اَثْبِتْنِىْ عِنْدَكَ فِي اُمِّ اْلكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَ قَوْلُكَ اْلحَقُّ فِى كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ اُمُّ اْلكِتَابِ. اِلهِيْ بِالتَّجَلِّى اْلاَعْظَمِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ الْمُكَرَّمِ الَّتِيْ يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍ وَ يُبْرَمُ اِصْرِفْ عَنِّيْ مِنَ اْلبَلاَءِ مَا اَعْلَمُ وَ مَا لا اَعْلَمُ وَاَنْتَ عَلاَّمُ اْلغُيُوْبِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ . اَمِيْنَ

Artinya : Ya Allah, Dzat Pemilik anugrah, bukan penerima anugrah. Wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Wahai dzat yang memiliki kekuasaan dan kenikmatan. Tiada Tuhan selain Engkau: Engkaulah penolong para pengungsi, pelindung para pencari perlindungan, pemberi keamanan bagi yang ketakutan. Ya Allah, jika Engkau telah menulis aku di sisiMu di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka atau terhalang atau tertolak atau sempit rezeki, maka hapuskanlah, wahai Allah, dengan anugrahMu, dari Ummul Kitab akan celakaku, terhalangku, tertolakku dan kesempitanku dalam rezeki, dan tetapkanlah aku di sisimu, dalam Ummul Kitab, sebagai orang yang beruntung, luas rezeki dan memperoleh taufik dalam melakukan kebajikan. Sunguh Engkau telah berfirman dan firman-Mu pasti benar, di dalam Kitab Suci-Mu yang telah Engkau turunkan dengan lisan nabi-Mu yang terutus: “Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan apa yang dikehendakiNya dan di sisi Allah terdapat Ummul Kitab.” Wahai Tuhanku, demi keagungan yang tampak di malam pertengahan bulan Sya’ban nan mulia, saat dipisahkan (dijelaskan, dirinci) segala urusan yang ditetapkan dan yang dihapuskan, hapuskanlah dariku bencana, baik yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi, demi RahmatMu wahai Tuhan Yang Maha Mengasihi. Semoga Allah melimpahkan solawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau. Amin.

5. Perbanyak Amalan Puasa di Bulan Sya’ban

Kalau mau meraih kebaikan, bisa diraih dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ

Artinya : “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156).

Demikian juga bagi yang bagi yang punya utang puasa Ramadhan, segeralah dilunasi karena bulan Sya’ban adalah bulan terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Abu Bakr Al- Balkhi berkata,
شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ
Artinya : “Bulan Rajab saatnya menanam. Bulan Sya’ban saatnya menyiram tanaman dan bulan Ramadhan saatnya menuai hasil.”

Inilah sekelumit amalan sunnah di bulan Sya’ban walaupun sebenarnya sangat banyak namun akan kita uraikan dkesempatan lain, dan persiapan yang selayaknya dilakukan oleh kaum muslimin dalam rangka menyambut kedatangan bulan suci Ramadan.

Semoga kita termasuk golongan yang bisa berniat, berucap dan berbuat yang terbaik di bulan Sya’ban dan Ramadan yang akan datang.

Hanya kepada Allah SWT kita memohon petunjuk dan pertolongan dan semoga kita bias dipertemukan kembali pada sya’ban yang akan datang.

 

[Penulis merupakan Ketua Umum Dayah Darul Ma’rifah (Dama) Lampeunerut Ujong Blang, Aceh Besar dan anggota Himpunan Ulama Dayah (Huda) Banda Aceh]

Artikel ini telah dibaca 147 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Jaminan Akal-Akalan Penguasa Buruh Makin Resah

21 Februari 2022 - 08:06 WIB

Erupsi Korupsi di Masa Pandemi

9 Desember 2021 - 20:58 WIB

Kegiatan Usaha di Aceh Tumbuh Positif

1 November 2021 - 18:01 WIB

Foto : Kepala BI Aceh, Achris Sarwani.

Perburuhan Menurut Pandangan Islam

5 Mei 2021 - 06:16 WIB

Inovasi Warga Seulalah Baru Manfaatkan Lahan Budidaya Cabai Berkualitas

14 April 2021 - 01:56 WIB

Gaya Hidup Sehat Upaya Menekan Biaya Kesehatan Pada Penyakit Gagal Ginjal Kronik

12 April 2021 - 22:37 WIB

Foto : dr Desi Anna Rahmi.
Trending di Kesehatan