Niat Mulia Adopsi Anak, Pasangan ini Justru Jadi Tersangka Trafficking

by

Ketika pasangan suami istri yang sulit dan sangat ingin memiliki anak akhirnya terkabul pantaslah si buah hati mendapat kasih sayang yang luar biasa. Termasuk jika sang anak akhirnya harus direnggut dari kepemilikan mereka siapa yang tak remuk nuraninya.

Seperti kejadian di awal minggu ini tepatnya Senin 7 Agustus. Raungan beberapa ibu pecah hingga ada yang pingsan dan menggegerkan kesunyian Mapolsek Tanah Jawa. Pasalnya, mereka harus menyerahkan keempat anak yang mereka asuh sejak kecil ke Dinas Sosial Simalungun, Sumatera Utara. Selain itu video seorang ibu yang histeris ketika anaknya hendak dibawa wanita Dinsos pun viral di dunia maya.

Menjadi Tersangka Karena Dugaan Human Trafficking

Menurut para orangtua, anak-anak mereka yang diserahkan oleh Kepolisian Resort Simalungun melalui Polsek Tanah Jawa ke Dinas Sosial tersebut diakui sebagai anak adopsi. Namun justru diduga adopsi ilegal sebagai praktik perdagangan orang atau human trafficking. Sehingga tak hanya harus berpisah dengan anak yang mereka asuh bertahun-tahun melainkan mereka juga harus berhadapan dengan hukum.

Histeris Hingga Pingsan

Baca Juga  Komnas Perlindungan Anak : Putusan Bebas PN Siantar Terhadap Terdakwa Pembunuh Balita MS Mencederai Harkat Martabat Anak

Seorang ibu berinisial MS memeluk erat anak perempuan yang telah ia asuh selama tujuh tahun sembari memohon-mohon agar diberi hak asuh. Setelahnya, ia sempat pingsan dan diurus Polwan Putri Sinuraya. Sedangkan LT tampak sangat berat menyerahkan anak laki-lakinya ke petugas Dinsos. Tangannya tak ingin terlepas, berulangkali ia cium anak adopsinya dan memohon untuk bisa memeluk terakhir kalinya.Selain itu ada juga seorang pria berkacamata bernama Muda Ijin histeris minta ampun sambil menyebut nama Tuhan. Tak rela menyerahkan anak yang ia akui sebagai darah dagingnya sendiri dengan perempuan bernama Lentina Panjaitan. Diketahui jika Lentina Panjaitan adalah seorang pelayan kafe Aekliman di Buntu Bayu.

Demi Penegakan Hukum

Tangis dan haru menyertai proses serah terima empat anak yang diduga adopsi ilegal. Meski begitu Dinas Sosial dan polisi melandaskan kejadian tersebut pada Pasal 13 PP No. 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan anak. Afni dari Dinas Sosial menyatakan bahwa pihaknya berhak bertanggung jawab atas anak-anak tersebut untuk kemudian dititipkan ke panti asuhan. Pihaknya pun mencoba menjelaskan pada orangtua bahwasannya anak-anak mereka tersebut akan didampingi hingga besar, dijamin tidak terlantar, dan masa depan yang dipertimbangkan. Sehingga para orangtua yang ingin melihat perkembangan bisa difasilitasi. Beliau mengaku terharu dan mengerti perasaan para orangtua tersebut namun hukum harus tetap ditegakkan.

Baca Juga  Aktivis Ini Numpang Mandi di PDAM, Kantor Gubsu dan DPRDSU Karena Tarif Air Naik

Sebelumnya Praktik Jual Beli Bayi Telah Terbongkar

Faktanya, berita histerisnya para ibu yang menyerahkan anak mereka ke Dinas Sosial tentu karena alasan kuat yakni setelah terbongkarnya kasus perdagangan bayi di Simalungun. Tepatnya pada Sabtu 5 Agustus polisi mengamankan 12 belas orang yang diduga sebagai dukun beranak, bidan, bayi, serta penjual dan pembeli.

Kompol Anderson memang telah lama memimpin investigasi atas dugaan perdagangan bayi. Hingga akhirnya warga menginformasikan sesuatu yang janggal dimana seorang pelayan kafe bernama Lentina Panjaitan yang semula berperut besar kini tampak sudah kempes. Barulah diketahui bahwa LP melahirkan di klinik bidan Ernani Simanjutak pada 23 Juli 2017. Kemudian karena berdalih tidak mampu membayar biaya persalinan diduga bayinya diadopsi dengan imbalan uang sebesar RP 15 juta melalui bidan pembantu Eni Putri Ayu Sinurat. Lentina diketahui telah 3 kali menjual bayi secara ilegal. Tahun 2003 ia memberikan anaknya pada MS melalui dukun beranak Hot Mariana Manurung. Pada Juni 2016 menjual lagi RP 2,7 juta melalui bidan Ernani dan Eni yang telah dibawa ke Batam. Sedangkan anak ketiga dijual RP 15 juta pada 24 Juli 2017.

Baca Juga  SWURF Band Bicara Dengan “Imajinasi”

Jeratan Hukum

Tersangka human trafficking yaitu Ernani Nofrida Simanjutak dan Eni Putri Ayu Sinurat dikenai Pasal Perlindungan Anak dengan hukuman maksimal 15 tahun penjara. Terhadap Lentina Panjaitan selaku penjual anak pun dikenakan hukum yang sama. Sedangkan bagi para pengadopsi ilegal yaitu yang berinisial P, R, MIS, THS, NR, MS, TRN, dan LT, diancam hukuman penjara maksimal 5 tahun.

Sejatinya kejahatan apapun akan terbongkar. Meski tak sampai hati memisahkan anak dari orangtua, jika kebenaran terungkap seperti kejadian ini tetap hukum lah yang harus ditegakkan. Semoga kasus serupa tidak terjadi lagi dan bagi masyarakat lain juga berkomentarlah yang bijak ya dalam menanggapinya.