Dr. Ahmad Sastra

Islam Moderat-Sebuah Kekeliruan Interpretasi Epistemologi

Oleh: Dr. Ahmad Sastra
Ketua Divisi Riset dan Literasi
Forum Doktor Islam Indonesia

WartaNusa – Islam adalah manhaj kehidupan holistik bagi kebaikan manusia seluruhnya sebab ia berasal dari sang Pencipta manusia. Islam adalah manhaj kehidupan yang realistik, dengan berbagai susunan, sistematika, kondisi, nilai, akhlak, moralitas, ritual dan begitu juga atribut syiarnya. Ini semuanya menuntut risalah ini ditopang oleh kekuatan institusi yang dapat merealisasikannya secara kaffah. Islam juga harus disokong oleh manusia-manusia amanah dengan ketundukan jiwa secara totalitas.

Bernard Shaw memberikan penilaian atas kesempurnaan Islam dengan mengatakan bahwa ia berharap kepada Islam untuk menolong seluruh dunia, ia yakin tidak sampai 200 tahun lagi, seluruh dunia akan memeluk agama Islam.

Toynbee lebih mendalam lagi dalam menganalisis dalam perspektif peradaban dengan mengatakan bahwa Islam sejak lahir hingga sekarang tetap dalam status yang baik. Islam tidak suka dengan pertumpahan darah. Apa yang diperintahkan dan dikerjakan tidak pernah ada cacatnya. Peradaban dunia saat ini berasal dari jerih payah orang Islam. Peradaban dunia dibagi tiga: Barat [Eropa], Timur [Tiongkok] dan Islam.

Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri yang terbentang dari Cina, Indonesia, India, Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir hingga Maroko dan Andalusia. Islam juga mendominasi cita-cita dan akhlak mereka serta berhasil membentuk gaya hidup mereka. Islam telah membangkitkan harapan mereka serta meringankan permasalahan dan kecemasan mereka. Islam telah berhasil membangun kemuliaan dan kehormatan mereka. Mereka telah disatukan oleh Islam; Islam telah berhasil melunakkan hati mereka, meski mereka berbeda-beda pandangan dan latar belakang politik. (Will Durant, 1926. The History of Civilization, vol. xiii, hlm. 151).

Kesempurnaan Islam juga ditunjukkan melalui berbagai istilah yang disematkan dalam kata Islam yang berasal dari Al Qur’an. Berbagai kata yang disematkan Allah setelah kata Islam misalnya kaffah, rahmatan lil’alamin dan washatiyah. Ketiganya memiliki pengertian khas yang sahih karena berasal dari Allah langsung. Sementara istilah-istilah yang disematkan setelah kata Islam banyak yang telah menyimpang dari Al Qur’an karena berasal dari epistemologi Barat yang sekuler.

Bahkan, Barat yang tidak suka dengan Islam menginginkan keterpecahan kaum muslimin dengan strategi adu domba. Barat menginginkan polarisasi muslim dengan memberikan label dan kaveling-kaveling Islam sehingga menimbulkan berbagai friksi intelektual hingga fisik sesama muslim.

Beberapa postulat berikut merupakan ‘Islam’ buatan Barat yang dibangun oleh epistemologi Barat dan tentu tidak ditemukan dalam ajaran Islam. Diantara ‘Islam’ buatan Barat itu adalah: Islam Moderat, Islam Radikal, Islam Fundamentalis, Islam Nusantara, Islam Progresif, Islam Liberal, Islam Sekuler, Islam Demokratis, Islam Sosialis, Islam Teroris, Islam Tradisional dan Islam Modern. Ragam Islam inilah hasil dari gerakan imperialisme epistemologi [ghozwul fikr] Barat ke dunia Islam.

“Islam adalah suatu pengertian, suatu paham, suatu begrip sendiri, yang mempunyai sifat-sifat sendiri pula. Islam tak usah ‘demokratis’ 100%, bukan pada otokrasi 100%, Islam itulah Islam”. (M. Natsir, Kapita Selecta: 453). Ungkapan penggagas partai Masyumi ini adalah salah satu pemikiran dan keyakinannya saat menanggapi pujian Soekarno kepada Kemal Attaturk yang mengubah ideologi Islam di Turki menjadi negara demokrasi Barat.

Mengomentari pemikiran Natsir, Hamka pernah menulis, “M. Natsir berpendapat, Islam bukanlah semata-mata suatu agama, adalah suatu pandangan hidup yang meliputi soal-soal politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Baginya, Islam itu adalah sumber dari segala perjuangan atau revolusi itu sendiri, sumber dari penentangan setiap macam penjajahan: eksploitasi manusia atas manusia; pemberantasan kebodohan, kejahilan, pendewaan dan juga sumber pemberantasan kemelaratan dan kemiskinan. Nasionalisme hanyalah langkah menuju persatuan manusia di bawah lindungan dan keridhaan ilahi. Islam tidak memisahkan antara keagamaan dan kenegaraan. Sebab itu, Islam itu adalah primair”.

Karena itu tidaklah sama antara makna Islam Washatiyah dengan Islam Moderat, bagai langit dan bumi. Istilah Washatiyah berasal dari epistemologi Al Qur’an, sementara istilah Moderat berasal dari epistemologi Barat. Meskipun banyak cendekiawan muslim memaksakan diri untuk menyamakannya. Menyamakan keduanya akan melahirkan epistemologi oplosan yang menyesatkan umat.

Tanpa diberikan embel-embel moderat, Islam adalah agama yang penuh perdamaian, toleransi, adil dan menebarkan kebaikan kepada seluruh alam semesta. Dengan menerapkan Islam secara kaffah (menyeluruh) dalam istitusi negara, maka kebaikan Islam baru akan dapat dirasakan oleh seluruh manusia di dunia. Islam tidak memerlukan label-label Barat yang menyesatkan, Islam ya Islam.

Toleransi seagama [tasamuh] sejak awal dibangun oleh Rasulullah, Sahabat, Tabi’in, Atba’ Tabi’in, Imam Mujtahid dan Kekhilafahan. Toleransi antaragama dalam Islam terbangun indah saat di Spanyol, lebih dari 800 tahun pemeluk Islam, Yahudi dan Kristen hidup berdampingan dengan tenang dan damai. Di India, sepanjang kekuasaan Bani Ummayah, Abbasiyah dan Ustmaniyah, muslim dan hindu hidup rukun selama ratusan tahun. Di Mesir, umat Islam dan Kristen hidup rukun ratusan tahun sejak Khulafaur Rasyidin.

Secara etimologi, makna al Wasath adalah sesuatu yang memiliki dua belah ujung yang ukurannya sebanding, pertengahan [Mufradat al Fazh Al Qur’an, Raghib Al Isfahani jil. II entri w-s-th]. Bisa bermakna sesuatu yang terjaga, berharga dan terpilih. Karena tengah adalah tempat yang tidak mudah dijangkau: tengah kota [At Tahrir wa At Tanwir jil. II hal. 17].

Umat wasath yang dimaksud adalah umat terbaik dan terpilih karena mendapatkan petunjuk dari Allah. Jalan lurus dalam surat al Fatihah adalah jalan tengah diantara jalan orang yang dibenci [yahudi] dan jalan orang sesat [nasrani][Tafsir Al Manar jil. II hal. 4]. Karakter umat washatiyah ada empat: Umat yang adil, Umat pilihan [QS. Ali Imran: 110], Terbaik dan Pertengahan antara ifrath [berlebihan] dan tafrith [mengurangi] [Tafsir Al Rari, jil. II hal. 389-390]. Makna washatiyah dalam perspektif tafsir ini tidak sama dengan makna moderat dalam pandangan Barat.

Ada empat kesalahan argumentasi pengusung ide Islam Nusantara adalah bahwa Islam Nusantara merupakan wujud kearifan lokal, Islam Nusantara adalah perwujudan Islam yang bersifat empirik, bentuk alternatif untuk menampilkan Islam yang lebih “moderat” dan keniscayaan untuk membendung bahaya Islam Trans-Nasional. Islam Moderat yang diinginkan oleh Barat adalah Islam yang menafikan penerapan Syariah Islam secara kaffah dan formalisasi Syariah oleh negara.

Karena itu penting memberikan pencerahan kepada umat tentang bahaya imperialisme epistemologi Barat ini dengan cara membentengi umat dari serangan Islam Moderat dengan menjelaskan kesesatan dan kerusakan ide Islam Moderat. Umat Islam harus diberikan penjelasan yang menjelaskan tentang hakikat Islam sebenarnya, sesuai dengan Al Qur’an dan Al Hadits. Sebab, berbagai Islam buatan Barat ini berpotensi memecah belah persatuan umat dan ruang sensitif bagi upaya adu domba sesama muslim.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *