GEMA PERKASA Indonesia : Etika dan Estetika Berbangsa dan Bernegara

GEMA PERKASA Indonesia : Etika dan Estetika Berbangsa dan Bernegara

Oleh: Glesos Yoga Mandira*

Salam Perjuangan

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air Indonesia dimanapun berada.

Belakangan ini jika kita cermati dengan seksama fenomena Berbangsa dan Bernegara di Nagara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini terasa sangat gegap gempita, apalagi jika cermati di dunia maya, baik itu di FB, BBM maupun yang lagi ngetrend akhir-akhir ini yaitu WA. Di dalam masyarakat saling serang dan saling ejek satu sama lain, satu kelompok dengan kelompok lain saling beradu argumentasi kebenaran menurut sudut pandang masing-masing. Demikian pula di tingkat Pemerintahan, satu institusi satu dengan yang lain saling lempar tanggung jawab, satu pejabat dengan pejabat lain saling beradu kebenaran atas kebijakannya menurut subyektifitasnya masing. Dampaknya terjadi suasana ketidakpastian, kecemasan dan rasa tidak nyaman serta aman di dalam masyarakat, hingga mengakibatkan saling curiga antara satu dengan yang lain.

Dari gambaran tersebut munculah dalam diri kita suatu pertanyaan dalam diri kita,mengapa di Negara yang dalam menjalankan Tata Nilai Berbangsa dan Bernegara ini berlandaskan “Ketuhanan Yang Maha Esa” ini bisa terjadi suatu kondisi yang demikian. Ataukah dalam memaknai substansi “Ketuhanan Yang Maha Esa” ini terjadi distorsi pemahaman, sehingga yang terjadi adalah suatu penafsiran secara subyektif menurut pribadi dan golongannya masing-masing. Berbicara “Ketuhanan Yang Maha Esa” seharusnya jika kita menyadari sepenuhnya serta meyakini akan Ke-Esaan Sang Pencipta harusnya tidak ada penafsiran-penafsiran yang berbeda atas Ke-Esaan Sang Pencipta. Bukankah Kemajemukan yang ada di alam semesta ini hakekatnya Satu Tunggal, yakni Ciptaan dari Tuhan Yang Maha Esa, untuk itu masihkah kita berpaling akan Ke-Esaan-Nya. Apalagi dalam pemahaman ini oleh para pendahulu kita, para pendiri Bangsa (The Founding Father’s) kita, telah dijadikan Falsafah atau Filosophi dalam Berbangsa dan Bernegara kita yaitu yang berbunyi : “Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangwra”.

Marilah kita coba renungkan bersama tentang makna atau substansi Kehendak Sang Pencipta tersebut diatas dengan kita melihat di dalam diri kita masing-masing secara lahiriyah. Manusia apapun Sukunya, Agamanya, Rasnya atau Kulitnya maupun Golongannya dimanapun mereka berada diseluruh permukaan Bumi ini mempunyai kondisi fisik yang sama. Bila kita belah dari atas kebawah, maka bagian kiri dan kananya pastilah mempunyai organ tubuh yang simetris. Hal ini menunjukkan bahwa Kehendak Sang Pencipta atas manusia ciptaannya ini seimbang/simetris dalam menjalani Hidup, Tata Nilai Hidup maupun Tata Nilai Kehidupannya baik ketika sendiri, berkeluarga, bermasyarakat dan Berbangsa serta Bernegara. Kesimetrisan ini akan mewujudkan Keselarasan dan Keseimbangan dalam dirinya, sehingga bisa mewujudkan suatu ‘keindahan’ baik dalam dirinya maupun lingkungannya. Namun ‘keindahan kehidupan’ tersebut diatas tidak akan mungkin terwujud apabila kita meninggalkan atau jauh dari ‘nilai etika dan estetika’ dalam Tata Nilai Kehidupan.

“Etika” adalah suatu tindakan atau perilaku manusia yang senantiasa mengargai atau berlandaskan “Norma-Norma” yang berlaku dalam lingkungannya. “Estetika” adalah suatu kondisi akibat dari perilaku manusia berdasarkan norma-norma kehidupan yang menghasilkan “keindahan” dalam “Cipta, Rasa serta Karsa Manusia”. Selanjutnya apakah dalam Berbangsa dan Bernegara kita juga harus mengedepankan Etika dan Estetika. Tentu, selama kita menjalani Tata Nilai Kehidupan dalam Berbangsa dan Bernegara bila meninggalkan atau menjauhkan diri dari nilai-nilai tersebut, maka parameternya pasti dapat kita lihat, kita rasakan dengan sangat jelas, yaitu munculnya ketidak pastian di dalam masyarakat, muncul kecemasan, rasa tidak aman serta tidak nyaman, terjadi ketidak percayaan satu dengan yang lainnya, saling curiga mencurigai hingga akhirnya muncul rasa tidak percaya masyarakat kepada Pemerintah.

Nilai-nilai Etika seharusnya di implementasikan oleh Negara melalui aparat pemerintahannya baik yang di Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif dengan melaksanakan secara konsisten dan komitmen seluruh perundang-undangan yang telah disepakati bersama sebagai konsesus dalam Berbangsa dan Bernegara, yang bersumber pada Filosofi Negara, Landasan Ideologi Negara dan Landasan Konstitusi Negara. Itulah norma-norma, atau nilai-nilai Berbangsa dan Bernegara. Estetika Berbangsa dan Bernegara yakni bagaimana para penyelenggara Negara tersebut dengan menjalankan Etika Berbangsa dan Bernegara mampu menciptakan harmonisasi seluruh elemen Bangsa, tanpa membedakan apa Suku, Agama, Ras, maupun Golongan yang ada dalam masyarakat (rakyat).

 

Jika Etika dan Estetika Berbangsa dan Bernegara ini bisa dijunjung tinggi dan diwujudkan oleh seluruh elemen Bangsa, baik Pejabat Penyelenggara Negara maupu Rakyatnya, maka Tujuan didirikannya Bangsa dan Negara ini yang tersurat dan tersirat dalam alinea IV Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945 akan bisa terwujud dan seperti kata Bung Karno dulu “Indonesia akan menjadi Mercu Suar Dunia”.

Jakarta, 14 November 2017.

*Ketua Umum GEMA PERKASA INDONESIA

Gerakan Masyarakat Peduli Rakyat dan Bangsa Indonesia

COMMENTS

WORDPRESS: 1
DISQUS: 0