Ahmadinejad Ditangkap Karena ‘Menghasut Kekerasan’ di Iran

by

Taheran | wartanusa.id – Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dilaporkan ditangkap karena “menghasut kekerasan” pada demonstrasi menentang pemerintah Teheran dan meroketnya harga pangan (7/01/2018). Ahmadinejad ditangkap karena komentar yang dia buat pada sebuah demonstrasi (28/12) di kota Bushehr, Iran Barat, seperti dilaporkan surat kabar Al-Quds Al-Arabi yang berbasis di London.

Ahmadinejad yang merupakan pejabat Iran akan diusahakan untuk tetap ditahan sebagai tahanan rumah dengan persetujuan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, karena mengkritik rezim tersebut dan Presiden Hassan Rouhani.

“Beberapa pemimpin saat ini hidup terlepas dari masalah dan keprihatinan masyarakat, dan tidak tahu apapun tentang realitas masyarakat,” kata Ahmadinejad, menurut laporan tersebut.
Dia juga menuduh pemerintah “salah urus” dan mengkritik Rouhani karena percaya bahwa “mereka memiliki tanah dan masyarakatnya tidak tahu apa-apa.”

Berita tentang penangkapan Ahmadinejad yang berusia 61 tahun, yang pernah menjadi presiden pada tahun 2005 hingga 2013, hadir pada hari Minggu dan mengatakan bahwa demonstrasi tersebut telah berakhir dan lagi-lagi menyalahkan kekerasan di Amerika Serikat, Inggris dan Israel.

Baca Juga  Hasil Liga Spanyol: Leganes Dibantai Barcelona 1-5, Trio MSN Kembali Onfire!

“Orang-orang revolusioner Iran, bersama dengan puluhan ribu pasukan Basij, polisi dan Kementerian Intelijen, telah memecahkan rantai (kerusuhan),” kata Garda Revolusi dalam sebuah pernyataan persnya.
Meski begitu, deklarasi itu, menjadi sumber kekacauan yang terus berkobar.

Demonstrasi tersebut meletus pada 28 Desember dikarenakan harga makanan (pangan) yang melonjak dan akhirnya berubah menjadi demonstrasi melawan ulama yang berkuasa dan kurangnya dukungan pemerintah untuk orang-orang Iran kelas pekerja (buruh).

Ketidakpuasan tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh negeri dan menyebabkan kematian sedikitnya 22 orang dan penangkapan ribuan orang, menurut pemerintah. Namun media oposisi mengatakan korban tewas mendekati angka 50 orang.

Protes tersebut merupakan yang terbesar di Iran sejak 2009, ketika massa menantang pemilihan kembali Ahmadinejad, karena mereka meyakini telah dicurangi. Khamenei menggunakan Garda Revolusi dan pasukan keamanan lainnya secara brutal untuk menghentikan pemberontakan tersebut.

Selama masa kepresidenannya, Ahmadinejad menyebut Holocaust sebagai “mitos” dan mengatakan kepada orang Amerika, “Di Iran, kita tidak memiliki homoseksual seperti di negara Anda.” (red)