Fery FM Kylikili Ketua Umum FPIB Deklarasi Kebinekaan “Konsisten Perangi Rasisme”

Fery FM Kylikili Ketua Umum FPIB Deklarasi Kebinekaan “Konsisten Perangi Rasisme”

Jakarta, Wartanusa.id - Papua sebagai salah satu bagian dari kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah melalui proses referendum yang

Jakarta, Wartanusa.id – Papua sebagai salah satu bagian dari kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah melalui proses referendum yang dikenal dengan PEPERA dan hasilnya telah disahkan melalui resolusi PBB No 2504 yang dikeluarkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 19 November 1969.

Resolusi tersebut diusulkan oleh 6 negara dan diterima oleh Majelis umum PBB dengan timbangan suara 84 setuju, 0 yang menentang dan 30 abstain. Dengan tidak dipermasalahkan PEPERA oleh Negara manapun menunjukkan bahwa, PEPERA diterima oleh masyarakat internasional. Artinya, Papua sebagai bagian dari NKRI telah diakui oleh masyarakat internasional dan disahkan oleh lembaga internasional tertinggi yaitu PBB.” Ujar Ketua Umum Forum Pemuda Indonesia Bersatu, ( FPIB ) Fery FM Kylykili pada saat pembukaan Deklarasi FPIB yang bertema “SEMANGAT KEBHINEKAAN MENCEGAH KONFLIK SOSIAL” dan sub Thema “Mari Ciptakan Lingkungan Aman Dan Damai Serta Bermartabat” yang diselengarakan di Palugada Food Street Jalan Meruya Ilir No.38. Srengseng Kembangan Jakarta Barat.

Menurut Fery, “Kemerdekaan Papua dapat dimaknai dengan Papua yang mampu bangkit dan hidup sejahtera. Kemerdekaan Papua dapat dimaknai dengan Papua yang bebas dari kesengsaraan dan ketidakadilan. Kemerdekaan Papua dapat dimaknai dengan Papua yang merdeka dan bebas dari segala permasalahan.” Ujarnya.

Fery juga menghimbau kepada masyarakat agar masyarakat tidak cepat termakan hoax, pengguna sosial media untuk lebih berhati-hati dalam menyebarkan sebuah berita, menyaring terlebih dahulu sebelum meng-sharing informasi tersebut kepada pengguna sosial media lainnya.

Sosial media telah menjadi lalu lintas informasi di semua kalangan, salah satu efek yang timbul adalah menyebarnya informasi bohong atau hoax di sosial media. Beredarnya berita hoax dapat mempengaruhi pandangan atau pemikiran para pengguna sosial media, hal tersebut harus di cegah sejak dini.

Masyarakat diharapkan cerdas menggunakan sosial media, melakukan telaah terhadap berita atau informasi yang sedang dilihat, apakah hal tersebut bernuansa negatif atau positif setidaknya hal itu menjadi dasar utama untuk diketahui sebelum meng-sharing informasi kepada pengguna sosial media lainnya.

Saat ini sudah ada UU ITE Pasal 28 ayat (1) UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Jangan mudah percaya informasi di media sosial. Disaring dulu sebelum di-sharing”himbaunya.

Dijelaskan bahwa deklarasi tersebut dilakukan karena seluruh rakyat Indonesia adalah sama, bersatunya, seluruhnya memiliki hak yang sama terhadap kemerdekaan dan tidak ada satupun yang berhak untuk mendiskriminasi satu sama lain.

Dalam deklarasi itu pula, FPIB , GBIK, PP, FORKABI, BETAWI REMPUG, menyatakan diri bersaudara dengan dengan masyarakat Papua dan tetap membela dan mempertahankan keutuhan NKRI.

Senada dengan Fery, Junaedi. S.H. yang berprofesi Advokat dan juga Sekretaris Jenderal FPIB, mengatakan bahwa pesta demokrasi, jangan menjadi momok bagi masyarakat dan juga dijadikan momen pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan isu mulai dari isu SARA hingga isu hoax.

“ Apabila ujaran-ujaran kebencian yang selama ini berhembus dibiarkan, akan menimbulkan kerugian bagi kita semua, untuk itu , kita yang hadir disini dari ormas – ormas pemuka agama mari kita melawan berita Hoax , karena berita bohong itu akan membuat kita menjadi saling curiga, kita akan dihantui rasa takut, ekonomi akan lumpuh, dan masih banyak lagi yang akan kita rasakan,”Pungkasnya. ( Humas/ infocom GBIK )

COMMENTS

close