Menjaga Sholat, Tapi Rezeki Sempit dan Sial. Ini Jawabannya

Menjaga Sholat, Tapi Rezeki Sempit dan Sial. Ini Jawabannya

Meski ustadz kondang asal Banjarmasin ini, KH Arifin Ilham telah berpulang ke sisi Allah. Masih selalu ada percikan hikmah dari kisah perjalanan hidup

Meski ustadz kondang asal Banjarmasin ini, KH Arifin Ilham telah berpulang ke sisi Allah. Masih selalu ada percikan hikmah dari kisah perjalanan hidup beliau hingga tausiyah-tausiyah yang beliau sampaikan dalam setiap pengajian yang diisinya.

Salah satu hikmah yang masih sangat relevan bagi kehidupan kita saat ini adalah sebuah pertanyaan jamaah beliau, “Bang, mengapa aku selalu sial, dari masalah rezeki sampa jodoh? Apa yang salah, ya Bang? Padahal, aku selalu shalat?” tanya jamaah tersebut.

Saat itu, Ustadz Arifin Ilham menjawab, “Karena belum sungguh-sungguh bertaubat. Orang yang banyak berdosa adalah yang paling banyak kesialan di dalam hidupnya. Shalatnya masih dengan maksiat.”

Setelah berkata demikian, beliau mengingatkan, bahwa setiap penyesalan dan taubat atas dosa-dosa seharusnya diiringi dengan memperbanyak istighfar, karena kemudahan segala urusan itu didapat dengan beristighfar. Beliau juga mengingatkan agar bersungguh-sungguh dalam ketaatan, dan menghindari perbuatan maksiat atau kezhaliman.

Tanya jawab ini diabadikan dalam sebuah buku berjudul Mutiara Hikmah Facebook 1. Masih terkait soalan ini, Ustad Arifin Ilham membawakan ayat Al Qur’an:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath-Thalaq ayat 2-3)

Nasihat ini sejatinya akan bermanfaat jika kita renungkan dan diamalkan untuk diri masing-masing. Bukan malah menjadikan sebagai cara untuk mengukur dan menilai kehidupan orang lain.

Sungguh segala kemudahan di dunia dan akhirat bisa didapatkan dengan ketaqwaan dan tawakal. Jika ada yag belum terpenuhi, maka bukanlah janji Allah yang salah, melainkan kekurangan dari dalam diri kita sendiri. Ikhtiar belum maksimal, tawakkal yang masih setengah-setengah, dan yang pasti dalam setiap ketetapan Allah Ta’ala sejatinya tersimpan hikmah yang besar jika kita mau mengambil pelajaran.

COMMENTS

close