Selamat Hari Radio Ke-73 “Sekali di Udara, Tetap di Udara

Demikian Danrem 071/Wijayakusuma Kolonel Kav Dani Wardhana S.Sos., M.M., M.Tr (Han) menyampaikan kepada segenap jajaran Radio Republik Indonesia (RRI), Senin (10/9/2018).

“Atas nama pribadi dan selaku Komandan Korem 071/Wijayakusuma beserta seluruh staf dan Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 071 PD IV/Diponegoro mengucapkan Selamat HUT Radio Republik Indonesia pada tanggal 11 September 2018 esok genap berusia 73 tahun”, paparnya.

Danrem 071/Wijayakusuma berharap, RRI senantiasa menjadi Lembaga media informasi dan komunikasi publik yang terus menerus memberikan siaran-siarannya yang inovatif dan edukatif serta dapat membangun karakter bagi pengetahuan bangsa yang positif dan konstruktif. Diharapkan juga mampu sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Dirgahayu Ke-73 Radio Republik Indonesia, sekali di udara, tetap di udara. jayalah Selalu RRI-ku”, ungkapnya.

Diketahui bahwa setiap tanggal 11 September diperingati Hari Radio Nasional, juga sekaligus diperingati sebagai hari kelahiran Radio Republik Indonesia (RRI) yang didirikan pada 11 September 1945. Itu juga yang menjadi sebab mengapa peringatan Hari Radio kerap disebut juga sebagai Hari RRI.

Sejarah RRI didirikan kurang lebih satu bulan setelah radio Hoso Kyoku dihentikan pada 1945, saat itu tidak ada media penyebaran informasi pasca kemerdekaan. Padahal saat itu, radio luar negeri mengabarkan tentara Inggris yang mengatasnamakan sekutu akan menduduki Jawa dan Sumatera.

Ada berita penting yang harus segera disiarkan saat itu, yakni kabar Inggris akan melucuti tentara Jepang dan mengamankan Indoneia hingga Belanda dapat berkuasa kembali dan Belanda yang masih diakui kedaulatannya atas Indonesia dan akan mendirikan pemerintahan bernama Netherlands Indie Civil Administration (NICA).

Atas keadaan genting ini, orang-orang yang pernah aktif di radio akhirnya tergerak bahwa radio adalah sarana informasi yang diperlukan oleh Indonesia. Akhirnya, delapan orang wakil dari bekas radio Hosu Kyoku bertemu di Jakarta.

Kedelapan orang tersebut adalah Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemardi, Sudomomarto, Harto, dan Maladi.

Pada 11 September 1945 pukul 17.00 WIB, mereka berkumpul dan diterima oleh Sekretaris Negara di bekas gedung Raad Van Indje, Pejambon. Dari pertemuan itu, dibuatlah sejumlah keputusan, yakni terbentuknya Persatuan Radio Republik Indonesia yang kemudian meneruskan penyiaran dari 8 stasiun di Jawa, dibuatnya RRI sebagai alat komunikasi rakyat, serta mengimbau semua hubungan antara pemerintah dan RRI disalurkan melalui Abdulrachman Saleh.

Setelah pemerintah menyanggupi, pada 24.00 WIB, delegasi dari 8 radio di Jawa mengadakan rapat di kediaman Adang Kadarusman. Delegasi tersebut adalah Soetaryo dari Purwokerto, Soemarmad dan Soedomomarto dari Yogyakarta, Soehardi dan Harto dari Semarang, Maladi dan Soetardi Hardjolukito dari Surakarta, dan Darya, Sakti Alamsyah dan Agus Marahsutan dari Bandung.

Sedangkan Malang dan Surabaya tidak memiliki delegasi perwakilan yang ikut rapat pada malam hari itu. Hasil dari rapat tersebut adalah terbentuknya RRI dengan Abdulrachman Saleh sebagai pimpinannya.

Seiring perkembangannya, radio tak hanya berfungsi untuk menyiarkan berita. Lebih dari itu, radio menjadi sarana penyebaran tren dan informasi lainnya, mulai dari sandiwara radio, lagu-lagu terbaru, hingga sejumlah wawancara diputar dan disiarkan di radio. Radio juga berpengaruh pada bagaimana cara orang mendengarkan musik pada sebuah generasi. Bagi Anda yang berusia 20 tahun ke atas, tentu masih ingat rasanya meminta lagu ke penyiar dan mengirim lagu untuk kerabat dan teman dekat. Di industri musik, radio menjadi salah satu media penyebaran lagu. Ada masanya, dan masih terjadi hingga kini, dimana radio juga sangat berpengaruh pada lagu apa yang menjadi hits dan tren musik seperti apa yang sedang diminati.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *